Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah salah satu burung paling indah sekaligus paling langka di dunia. Dengan bulu putih bersih, mata biru mencolok, dan suara yang merdu, Jalak Bali telah menjadi simbol keindahan alam Pulau Dewata. Namun, di balik pesonanya, burung ini juga menjadi ikon perjuangan konservasi karena populasinya yang sempat hampir punah.
1. Ciri Fisik dan Keindahan yang Mempesona
Jalak Bali mudah dikenali dari warna bulu putih murninya yang kontras dengan ujung sayap dan ekor berwarna hitam. Matanya dikelilingi kulit biru cerah yang terlihat mencolok, terutama pada burung jantan. Ukurannya relatif kecil, sekitar 25 sentimeter dari ujung paruh hingga ekor, dengan paruh runcing berwarna abu-abu muda.
Keindahan fisiknya membuat Jalak Bali sering disebut sebagai “permata Pulau Bali” atau “bidadari bersayap putih”. Suaranya juga khas, berupa siulan nyaring yang sering terdengar di hutan Bali Barat.
2. Habitat Asli Jalak Bali
Habitat asli burung ini berada di Taman Nasional Bali Barat, tepatnya di daerah Teluk Brumbun dan Prapat Agung. Mereka hidup di hutan kering dan semak belukar yang dekat dengan sumber air. Jalak Bali biasanya bertengger di dahan pohon tinggi untuk mengamati lingkungan sekitar atau mencari makanan seperti buah, biji, serangga, dan cacing.
Sayangnya, karena pembukaan lahan dan perburuan liar, wilayah jelajah mereka semakin menyempit, sehingga keberadaan mereka di alam liar menjadi sangat terbatas.
3. Perilaku dan Kebiasaan Hidup
Jalak Bali merupakan burung yang hidup berpasangan atau dalam kelompok kecil. Mereka sangat setia pada pasangannya dan bekerja sama dalam membangun sarang, biasanya di lubang pohon.
Musim kawin biasanya berlangsung antara bulan September hingga April. Dalam satu kali masa bertelur, betina menghasilkan 2–3 butir telur yang dierami selama kurang lebih dua minggu. Setelah menetas, kedua induk bekerja sama memberi makan anak-anaknya hingga cukup kuat untuk terbang.
4. Ancaman dan Upaya Konservasi
Populasi Jalak Bali sempat menurun drastis akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal karena keindahan dan nilai jualnya yang tinggi. Pada tahun 1990-an, jumlahnya di alam liar bahkan sempat tersisa kurang dari 20 ekor.
Kini, Jalak Bali dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta tercatat dalam daftar merah IUCN sebagai spesies Critically Endangered (kritis terancam punah).
Berbagai program penangkaran telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta, termasuk pelepasan kembali ke alam di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Berkat upaya ini, populasinya perlahan meningkat meski masih perlu pengawasan ketat.
5. Makna dan Harapan untuk Masa Depan
Bagi masyarakat Bali, Jalak Bali memiliki makna spiritual dan budaya yang dalam. Burung ini sering dianggap sebagai simbol kemurnian, kesucian, dan keseimbangan alam. Melestarikan Jalak Bali berarti juga menjaga identitas dan harmoni Pulau Dewata.
Dengan dukungan konservasi berkelanjutan dan kesadaran masyarakat, diharapkan Jalak Bali tidak hanya menjadi simbol di lambang daerah, tetapi juga tetap berkicau bebas di langit Bali untuk generasi mendatang.
Penutup:
Burung Jalak Bali adalah warisan alam yang sangat berharga bagi Indonesia dan dunia. Keindahan serta kisah perjuangannya menjadi pengingat bahwa setiap makhluk, sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Melindungi Jalak Bali bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga tentang menjaga keindahan dan kehidupan alam Pulau Bali itu sendiri.