Fugu adalah nama Jepang untuk ikan buntal, salah satu makanan paling unik, kontroversial, sekaligus mewah dalam dunia kuliner Jepang. Dikenal karena rasanya yang lezat dan teksturnya yang lembut, fugu juga memiliki reputasi yang mematikan. Hal ini karena ikan ini mengandung racun tetrodotoksin, yang bisa membunuh manusia dalam hitungan jam jika tidak disiapkan dengan benar.
Apa Itu Fugu?
Fugu merupakan sebutan untuk beberapa spesies ikan buntal dari genus Takifugu. Spesies yang paling sering dikonsumsi adalah Takifugu rubripes. Ikan ini banyak ditemukan di perairan Jepang, Tiongkok, dan Korea. Di Jepang, fugu telah dikonsumsi selama ratusan tahun, meski pada masa lalu sempat dilarang karena banyaknya kasus keracunan.
Racun Mematikan di Dalam Tubuh Fugu:
Yang membuat fugu berbahaya adalah kandungan tetrodotoksin, racun saraf yang sangat kuat, terutama ditemukan di hati, ovarium, dan kulit ikan. Racun ini 1.200 kali lebih kuat dari sianida, dan hingga kini belum ada penawar yang efektif. Hanya dibutuhkan sedikit saja untuk menyebabkan kelumpuhan, gagal napas, dan kematian.
Namun, meski sangat beracun, bagian daging fugu yang bersih dari racun bisa dikonsumsi dengan aman asalkan disiapkan oleh koki bersertifikat khusus.
Koki Fugu: Profesi Penuh Tanggung Jawab
Di Jepang, tidak sembarang orang boleh menyiapkan fugu. Koki yang ingin menyajikan ikan ini harus menjalani pelatihan ketat selama 2–3 tahun dan lulus ujian lisensi dari pemerintah daerah. Ujiannya mencakup identifikasi bagian beracun, keterampilan mengolah, serta menyajikan fugu dengan benar. Bahkan setelah lulus pun, tidak semua koki langsung diizinkan menyajikan fugu kepada publik.
Lisensi ini penting, karena kesalahan sekecil apa pun dalam memisahkan bagian beracun bisa berakibat fatal bagi konsumen.
Fugu Sebagai Simbol Budaya dan Keberanian:
Fugu tidak hanya dilihat sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol keberanian, kemewahan, dan pengendalian risiko dalam budaya Jepang. Banyak orang yang memesan fugu sebagai bentuk pengalaman kuliner ekstrem merasakan sensasi makan “di ambang kematian”. Makanan ini biasanya disajikan dalam bentuk sashimi tipis-tipis (disebut fugu sashi atau tessa), hot pot (fugu nabe), atau digoreng (karaage).
Di restoran khusus fugu, penyajiannya sangat estetik dan penuh kehati-hatian. Bahkan sering kali disajikan dalam bentuk bunga krisan simbol kematian dan keindahan di Jepang.
Hukum dan Regulasi:
Karena bahayanya, pemerintah Jepang sangat ketat dalam mengatur peredaran fugu. Tidak semua restoran boleh menjualnya, dan penjualan organ dalam fugu seperti hati (yang sangat beracun) telah dilarang. Di luar Jepang, beberapa negara bahkan melarang impor fugu, kecuali dari sumber yang sudah disterilkan atau dari peternakan fugu bebas racun.
Kesimpulan:
Fugu adalah makanan yang menyatukan seni, keahlian tinggi, dan risiko. Meski beracun, di tangan koki terlatih, fugu menjadi simbol kuliner Jepang yang unik dan mendunia. Ia bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal tradisi, kepercayaan, dan keberanian.