Permainan tradisional telah lama menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Indonesia, terutama sebelum era digital berkembang pesat. Salah satu permainan yang cukup populer dan sering dimainkan oleh anak-anak di berbagai daerah adalah kucing-kucing. Permainan ini bersifat kelompok dan biasanya dimainkan di luar ruangan seperti halaman rumah, lapangan, atau sekolah. Selain menyenangkan, kucing-kucing juga mengandung banyak nilai edukatif dan sosial yang bermanfaat bagi perkembangan anak.
Kucing-kucingan dimainkan oleh minimal 6 anak dan dapat bertambah sesuai jumlah peserta. Permainan ini terdiri dari tiga peran utama: anak yang menjadi “kucing”, anak yang menjadi “tikus”, dan anak-anak lain yang membentuk lingkaran sebagai pelindung atau penjaga. Lingkaran ini dibentuk dengan cara berpegangan tangan dan menghadap ke dalam, menciptakan pagar hidup bagi si tikus yang bersembunyi dari kejaran kucing.
Permainan dimulai dengan anak-anak bernyanyi sambil bergerak membentuk lingkaran, biasanya dengan lagu khas kucing-kucingan seperti Setelah lagu selesai, si “kucing” mulai mengejar si “tikus” yang berlari mengelilingi dan masuk ke dalam atau keluar dari lingkaran. Sementara itu, anak-anak yang membentuk lingkaran harus bekerja sama membuka dan menutup jalan dengan tangan mereka agar si tikus bisa masuk, namun mencegah si kucing mengejar ke dalam. Permainan akan terus berlangsung sampai si tikus tertangkap, lalu peran akan diganti secara bergiliran agar semua anak mendapat kesempatan bermain sebagai kucing atau tikus.
Permainan kucing-kucingan sangat menarik karena melibatkan berbagai elemen permainan seperti kecepatan, strategi, kekompakan, dan kelincahan. Permainan ini mengajarkan anak-anak tentang kerja sama tim, koordinasi tubuh, dan pentingnya komunikasi dalam mencapai tujuan bersama. Anak-anak juga belajar tentang keberanian, karena si tikus harus cerdas dan berani menghindari kejaran, sementara si kucing harus gesit dan teliti dalam mengejar.
Dari sisi fisik, permainan ini melatih kekuatan otot kaki, kelincahan, dan refleks anak. Dari sisi sosial, permainan ini sangat efektif dalam membangun relasi antar-anak, melatih sportivitas, serta mengajarkan aturan permainan secara alami. Karena dilakukan tanpa alat dan bisa dimainkan di mana saja, kucing-kucingan menjadi salah satu permainan yang mudah dijangkau oleh semua kalangan.
Namun, permainan tradisional seperti kucing-kucingan kini semakin jarang dimainkan, terutama di kota-kota besar. Anak-anak lebih sering bermain secara individual dengan gadget atau menonton televisi. Akibatnya, nilai-nilai sosial dan interaksi langsung semakin berkurang. Oleh karena itu, penting bagi para guru, orang tua, dan komunitas untuk kembali memperkenalkan permainan ini dalam berbagai kegiatan anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Kesimpulannya, permainan kucing-kucingan bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat pembelajaran yang kaya makna. Ia mengajarkan anak-anak untuk aktif bergerak, berinteraksi, dan menghargai peran masing-masing dalam kelompok. Melestarikan permainan ini berarti menjaga budaya lokal sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.