Permainan tradisional merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang kaya dan beragam. Salah satu permainan yang masih dikenal hingga saat ini, terutama di kalangan anak-anak, adalah ular naga. Permainan ini sangat populer di lingkungan sekolah dasar dan sering dimainkan secara berkelompok. Selain menyenangkan, permainan ular naga juga memiliki nilai-nilai edukatif yang bermanfaat bagi perkembangan anak.
Permainan ular naga biasanya dimainkan oleh minimal delapan anak dan bisa lebih, tergantung jumlah peserta. Dua anak akan berperan sebagai “gerbang” dengan membentuk lorong menggunakan tangan yang diangkat dan saling berpegangan. Anak-anak lainnya akan berbaris memanjang membentuk “badan ular” dengan saling memegang bahu atau pinggang teman di depannya. Sambil berjalan berbaris, mereka akan menyanyikan lagu khas permainan ular naga, seperti:
Lagu dinyanyikan berulang-ulang sambil anak-anak melewati “gerbang” yang terbuka. Ketika lagu selesai, tangan “gerbang” akan menurunkan lengannya dan “menangkap” salah satu anak. Anak yang tertangkap kemudian akan ditanya secara simbolis oleh dua penjaga gerbang untuk memilih salah satu di antara dua pilihan, biasanya diberi nama buah atau benda tertentu, misalnya “emas atau perak. Jawaban anak tersebut menentukan ke tim mana dia bergabung.
Setelah semua anak tertangkap dan terbagi dalam dua kelompok, permainan dilanjutkan dengan tarik-menarik antarkelompok. Tim yang paling kuat dan mampu mempertahankan anggotanya sebagai barisan utuh akan menjadi pemenang. Dalam variasi lain, setelah pembagian kelompok, permainan bisa berakhir dan dilanjutkan dengan permainan lain.
Permainan ular naga sangat digemari karena seru, mudah dimainkan, dan tidak memerlukan alat khusus. Anak-anak dapat memainkannya di halaman sekolah, lapangan, atau tanah lapang lainnya. Nilai edukatif dari permainan ini sangat besar. Dari sisi fisik, permainan ini membantu anak melatih kelincahan, kekuatan otot, dan koordinasi gerak. Dari sisi mental dan sosial, anak-anak belajar bekerja sama, mengikuti aturan, serta menjalin interaksi sosial yang menyenangkan.
Lebih dari itu, permainan ular naga juga mencerminkan budaya lisan dan tradisi musik anak Indonesia. Lagu yang dinyanyikan bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana memperkuat memori kolektif tentang nilai-nilai kebersamaan dan keberanian. Karena permainan ini dilakukan secara bersama-sama, anak-anak juga belajar pentingnya solidaritas dan sportivitas dalam berkompetisi.
Namun, seperti permainan tradisional lainnya, ular naga kini mulai jarang dimainkan, terutama di kota-kota besar. Anak-anak cenderung lebih memilih permainan digital di gadget daripada permainan fisik yang membutuhkan aktivitas kelompok. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk memperkenalkan kembali permainan seperti ular naga dalam kegiatan sekolah atau festival budaya.
Kesimpulannya, permainan ular naga adalah permainan tradisional yang kaya akan nilai edukatif, budaya, dan sosial. Permainan ini mengajarkan anak tentang kerja sama, keberanian, serta pentingnya kebersamaan. Melestarikan permainan ini berarti menjaga warisan budaya bangsa dan memastikan generasi muda tetap terhubung dengan akar tradisinya.