Purbalingga resmi menjadi daerah administratif tersendiri pada tahun 1759, setelah dipisahkan dari Kadipaten Banyumas. Pendiriannya diprakarsai oleh Ki Arsantaka dan putranya, Ki Arsayuda, yang memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah yang dianggap lebih strategis dan subur. Sejak saat itu, Purbalingga mulai memiliki identitas lokal yang kuat dan mandiri.
Evolusi Julukan Daerah: Dari "Tiban" ke "Perwira"
da masa pemerintahan Bupati Soelarno (1989–1999), Purbalingga mencetuskan slogan “Purbalingga Tiban” (Tertib, Indah, Bersih, Nyaman).
Beberapa waktu kemudian slogan tersebut diperluas menjadi “Purbalingga Tiban Abadi” (ditambah Aman dan Asli Budaya Sendiri).
Pada tahun 1991, muncul slogan baru: “Purbalingga Perwira”, akronim dari Pengabdian, Ramah, Wibawa, Iman, Rapi, dan Aman. Slogan ini segera melekat di masyarakat dan digunakan secara luas selama lebih dari tiga dekade hingga kini.
Alasan Utama: Kota Kelahiran Pahlawan & Perwira Nasional
Jenderal Besar Soedirman, Panglima Besar TNI pertama yang lahir pada 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati. Soedirman adalah simbol semangat pengabdian dan keberanian rakyat Indonesia. Tokoh penting lainnya yang lahir di Purbalingga adalah Usman Jannatin, keras dan patriot yang gugur saat Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1970-an).
Beberapa tokoh militer terkenal lainnya yang memiliki hubungan kuat dengan Purbalingga adalah Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, memperkuat identitas Purbalingga sebagai "Kota Perwira".
Reaksi Publik dan Penegasan Slogan:
Pada tahun 2016, muncul wacana mengganti slogan menjadi “Purbalingga Sehati” (Sejahtera, Harmonis, Aman, Tertib, Indah), namun gagasan tersebut ditolak masyarakat. Hanya digunakan untuk kalangan ASN, sementara masyarakat tetap mempertahankan slogan Purbalingga Perwira sebagai identitas utama daerah. Pemerintah daerah akhirnya resmi menetapkannya kembali melalui peraturan bupati.
Makna Sosial dan Budaya dari Julukan Perwira
Julukan "Perwira" bukan sekadar gelar simbolik. Ia merefleksikan nilai-nilai seperti:
- Pengabdian tulus kepada bangsa, terinspirasi dari sosok Jenderal Soedirman.
- Kesopanan, wibawa, dan keimanan yang menjadi norma sosial masyarakat.
- Ketertiban dan keamanan, sebagai cerminan komunitas yang harmonis dan mandiri.
Kesimpulan:
Julukan "Bumi Perwira" atau Kota Perwira bukan semata slogan promosi, melainkan warisan sejarah dan identitas daerah yang kuat. Berawal dari sosok-sosok pahlawan lahir di wilayah ini, serta dukungan penuh dari masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan, Purbalingga menjadikan julukan tersebut sebagai simbol kebanggaan dan semangat kolektif untuk terus berkarya dan membangun daerah.